Sabtu, 25 Mei 2019

Sudirman,Panglima Besar TNI


Sudirman tak pernah punya cita-cita jadi jenderal. Maklum, dia sadar bahwa bumiputra biasa macam dirinya mustahil jadi jenderal. 

Dirinya juga tak menyangka akan diangkat jadi Letnan Jenderal Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR) oleh pemerintah. Ini kejadian istimewa. Sebab banyak jenderal baru meraih bintang di pundak setelah masa pengabdian dua dekade atau lebih, sedangkan Sudirman bisa meraihnya dalam hitungan tahun saja. Sebenarnya latar belakang militer Sudirman tak diawali dengan mengkilap. 

Pria kelahiran Purbalingga pada 24 Januari 1916 ini hanya pernah jadi semacam hansip yang mengantisipasi serangan udara (LBD) di zaman kolonial, dan tiga bulan latihan menjadi calon komandan batalyon di Bogor pada zaman Jepang. Setelahnya dia langsung jadi komandan batalyon sekitar dua tahunan. 

Bisa dibilang pendidikan militer Sudirman kurang. Lantas mengapa Sudirman bisa jadi jenderal? Tentu saja karena paksaan Revolusi Kemerdekaan Indonesia yang serba darurat. Sudirman tentu dikenal dan makin dipercaya berkat pertempuran Palagan Ambarawa pada akhir 1945. Meski korban di pihak Indonesia jauh lebih besar dibanding pasukan Inggris yang menang Perang Dunia II, pertempuran itu dianggap sebagai kemenangan gemilang. “Orang-orang Indonesia sangat gembira. 

Mereka menganggap bahwa pengunduran terpaksa dari pihak sekutu itu adalah suatu kemenangan taktis militer,” tulis Ben Anderson dalam Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946 (1988: 174).


Kiprah Sudirman di Ambarawa itu kelak dikenang sebagai Hari Infanteri. Pertempuran ini membuat Presiden Sukarno mempercayakan kepemimpinan tentara di tangan Sudirman—yang sebelumnya sudah terpilih sebagai panglima lewat voting pada 12 November 1945. 

Keputusan rapat itu sulit diterima oleh Menteri Amir Sjarifuddin yang cenderung percaya pada orang-orang didikan militer Belanda ketimbang militer Jepang. 


Orang macam Sudirman, yang terbatas pengalaman dan pendidikan militernya, tentu sulit diterima. Toch, di mata Amir, Oerip Soemohardjo lebih berpengalaman dari Sudirman. Namun apa boleh buat, jumlah komandan bekas didikan Jepang yang lebih banyak ini sudah memilih Sudirman sebagai panglima mereka. 

Sebagai Panglima Besar, Sudirman tampil sebagai sosok pemimpin yang sederhana. Di kalangan prajurit, dia adalah sosok yang paling dihormati. 
Perwira-perwira yang tidak menyukainya pun, tampak sulit mendongkelnya dari jabatan panglima tertinggi. Di luar internal TKR—yang jadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI), Sudirman fokus pada musuh yang besar dan nyata: tentara Belanda yang dipimpin Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor.

Kala itu, Tentara Belanda terbilang lebih kuat dari TKR/TNI yang dipimpin Sudirman. Kata Adolf Lembong, yang lebih berpengalaman dalam bergerilya, “TNI adalah tentara miskin.” Keterbatasan senjata dan hal-hal lain membuat tentara Republik yang dipimpin Sudirman mau tidak mau harus melaksanakan perang gerilya jika tentara Belanda menyerang secara besar-besaran. 

Sebelum tentara Belanda menyerbu kota Yogyakarta pada 19 Desember 1948, Sudirman sudah tidak sehat. Paru-parunya bermasalah. Banyak sumber, salah satunya, Amrin Imran dalam Panglima Besar Sudirman (2004:48) menyebut, “Pak Dirman menderita TBC (tuberculosis)… sebuah paru-paru sudah rusak.”

Meski begitu, dia berkeras memimpin gerilya dalam Perang Kemerdekaan jilid 2 (1948-1949) itu sambil menghindari perburuan serdadu-serdadu Belanda yang bersenjata lengkap dan lebih terlatih dari TNI. 

Hingga muncul ungkapan: Sudirman memimpin perang dengan satu paru-paru. Sudirman yang tidak sehat namun masih mampu memimpin gerilya dalam perang yang mustahil dimenangkan Indonesia adalah bukti kebesaran sang Panglima Besar ini. 

Karena kehebatannya itu, muncul anggapan Sudirman adalah orang sakti. Beredar cerita bahwa Sudirman berhasil menghalau pesawat tempur Belanda dengan hanya bermodal sebilah keris. Soal mitos-mitos itu, Sudirman tidak perlu memberi penjelasan apalagi melarang-larang. Bukan karena ini menguntungkan Sudirman, melainkan karena kesulitan menjelaska ke masyarakat Indonesia yang doyan takhayul. 

Terlepas dari heroisme dalam Perang Kemerdekaan Dua dan “kecemerlangan” di Palagan Ambarawa, pria yang pernah menjadi guru di SD Muhammadiyah ini sudah dianggap sebagai Bapak Tentara yang lebih dari menguatkan tentara, melainkan juga membuat tentara jadi kekuatan penting di dalam negara. 

“Sikap Sudirman sebagai Bapak Tentara yang terus-menerus sebisa mungkin menjaga keutuhan dan otonomi tentara dari berbagai usaha sipil—pemerintah maupun oposisi—untuk mengontrol atau memengaruhinya,” tulis Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto(2016:253). 

“Kepemimpinan Sudirman juga membawa TNI keluar dari masa Revolusi dengan persepsi diri sebagai suatu kekuatan politik yang berjuang bersama dengan kekuatan politik lainnya.” 

Ketika Wakil Presiden Muhammad Hatta punya wacana memperkecil jumlah tentara karena amat kecilnya anggaran untuk militer di masa revolusi itu, Sudirman tak terima. Menurut Salim Said, Sudirman tak mau tentara hanya sebesar “daun kelor” di masa-masa sulit itu. Setelah memimpin perang gerilya dari akhir 1948 hingga pertengahan 1949, kesehatan Sudirman makin melemah. 

Sang Panglima Besar ini akhirnya mangkat pada 29 Januari 1950. Usianya baru 34 tahun. Setelahnya, tak ada lagi yang menjadi Panglima Besar TNI. Sudirman yang menjadi panglima besar pertama ini tentu dikenang oleh ABRI dan kini TNI. Hampir tiap kota di Indonesia punya Jalan Jenderal Sudirman.

Pada 1997, Sudirman dianugerahi pangkat Jenderal Bintang Lima karena jasa-jasanya sebagai Bapak TNI. Bersama Sudirman, dua penerima lain Bintang Lima ini adalah Jenderal Abdul Haris Nasution dan Jenderal Soeharto. Keduanya adalah mantan bawahan Sudirman di zaman revolusi dulu. 

Hanya tiga orang ini yang tercatat punya Bintang Lima dan dipanggil sebagai Jenderal Besar. “Ketiga perwira tinggi itu telah mengabdi secara istimewa bagi kepentingan ABRI, bangsa, negara dan rakyat Indonesia,” kata Panglima ABRI Jenderal Faisal Tanjung pada 1997 silam. 

Di Asia Tenggara, negara yang memiliki jenderal bintang lima lain adalah Vietnam, yakni Vo Nguyen Giap. Dia lebih tua dari Sudirman, dan sebelum masa-masa perang juga pernah menjadi pengajar. Vo dianggap sukses dalam menghalau Perancis dalam pertempuran Dien Bien Phu (1954) dan ikut menghalau tentara Amerika dalam Perang Vietnam dengan gemilang. 

Vo baru meninggal pada 2013. Dengan menjadi Jenderal Besar, Sudirman pun bersanding sejajar bersama Vo Nguyen Giap, Georgy Zhukov (Uni Soviet), Douglas McArthur (Amerika Serikat), maupun Erwin Rommel (Jerman) sebagai jenderal legendaris.


Dan Sudirman meninggal di usia amat muda, 34 tahun.


Jumat, 24 Mei 2019

Fakta Bung Tomo

Selain proklamasi kemerdekaan 17 Agustus, Indonesia juga mencatat momen sejarah penting dalam perjuangan melawan penjajah. Peristiwa itu terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya atau yang kemudian diabadikan menjadi Hari Pahlawan.
Menyebut Hari Pahlawan, memori bangsa teringat dengan aksi heroik Sutomo atau lebih dikenal dengan Bung Tomo dalam pertempuran di Surabaya melawan pasukan Inggris dan NICA-Belanda.

Dalam perang itu, Bung Tomo tampil sebagai orator ulung di depan corong radio. Suara dan pekikan takbirnya membakar semangat rakyat untuk berjuang melawan para penjajah.
Namun di balik aksi heroiknya, sosok Bung Tomo menyimpan kepribadian menarik yang patut diketahui. Apa saja? Berikut 6 fakta tentang Bung Tomo tersebut:


1. Tak Tamat sekolah

Siapa sangka, sosok Bung Tomo ternyata tak tamat sekolah. Hal itu terjadi kala ia berusia 12 tahun.
Bung Tomo yang lahir pada 3 Oktober 1920 di Surabaya, Jawa Timur dibesarkan dalam keluarga kelas menengah. Dia juga keluarga yang sangat menghargai dan menjunjung tinggi pendidikan.
Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo adalah seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda.

2. Pekerja Keras


Bung Tomo mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura.

Meski berasal dari keluarga menengah, Bung Tomo tidak berpangku tangan. Dia tetap bekerja keras. Kondisi ini membuatnya terpaksa meninggalkan pendidikan di MULO karena harus melakukan pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu.

Belakangan, Bung Tomo dapat menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.

HBS (Hegere Burger School) merupakan pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Masa studi HBS berlangsung dalam 5 tahun atau setara dengan MULO+AMS (SMP+SMA).

Kala muda, Bung Tomo aktif dalam organisasi kepanduan atau KBI. Bung Tomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya.
Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda.

3. Wartawan

Selain sebagai orator ulung, Bung Tomo juga seorang wartawan yang aktif menulis di beberapa surat kabar dan majalah. Tulisannya kerap menghiasi Harian Soeara Oemoem, Harian berbahasa Jawa Ekspres, Mingguan Pembela Rakyat, Majalah Poestaka Timoer.

Dia juga menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi Kantor Berita pendudukan Jepang Domei, dan pemimpin redaksi Kantor Berita Antara di Surabaya.

Kelihaiannya dalam menulis, ia tuangkan saat menyusun aksara dalam surat cinta kepada calon istrinya. Kisah itu terungkap dalam buku 'Bung Tomo, Suamiku',yang ditulis istrinya, Sulistina Soetomo.

Dalam tulisannya, Bung Tomo mengisahkan awal perjumpaan dengan sang kekasih. Keduanya merupakan pejuang dan memulai kisah cintanya di medan pertempuran. Di suratnya, Bung Tomo menulis:
"Kalau ada musuh yang siap menembak, dan yang akan ditembak masih pikir-pikir dulu, itu kelamaan. Aku dikenal sebagai seorang pemimpin yang baik dan aku adalah seorang pandu yang suci dalam perkataan dan perbuatan. Pasti aku tidak akan mengecewakanmu."
Bung Tomo melanjutkan. "Seorang pejuang tidak akan mengingkari janjinya. Aku mencintaimu sepenuh hatiku, aku ingin menikahimu kalau Indonesia sudah merdeka. Aku akan membahagiakanmu dan tidak akan mengecewakanmu seumur hidupku."

3. Foto Legendaris


Sosok Bung Tomo tengah berpidato dengan sorot mata yang bersemangat kerap muncul dalam momen Hari Pahlawan. Namun, gambar tersebut ternyata bukanlah diambil saat 10 November

Hal itu diungkapkan Istri Bung Tomo, Sulistina. Dia mengakui keaslian foto tersebut, namun momen yang tergambar dalam foto itu bukan terjadi pada operasi perang 10 November. Bung Tomo, kala itu berpidato di Lapangan Mojokerto pada 1947 dalam rangka mengumpulkan pakaian bagi korban perang Surabaya.

Saat itu, warga Surabaya masih tertahan di pengungsian Mojokerto dan jatuh miskin karena Surabaya masih dikuasai Belanda.

Momen penuh gelora itu diduga direkam oleh kamera fotografer Alexius Mendur dari IPPhoS (Indonesia Press Photo Services). Sang fotografer selanjutnya menerbitkannya di majalah majalah dwi bahasa Mandarin-Indonesia, Nanjang Post, edisi Februari 1947.

Alex sendiri merupakan kawan baik Bung Tomo dan juga merupakan pemotret peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945 dan pengibaran bendera pusaka di hari itu.

4. Jadi Pejabat


Usai pertempuran di Surabaya, sejumlah jabatan penting pernah diembannya. Pada periode 1955-1956, Bung Tomo menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap.
Kemudian, Bung Tomo juga pernah duduk sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia.

5. Dipenjara Era Orba


Pada awal Orde Baru, Bung Tomo mendukung pemerintahan Soeharto karena tidak berhalauan komunis. Namun sejak 1970, Bung Tomo mulai mengkritik kebijakan Soeharto.
Sikap kritis memang menjadi bagian dari kepribadian Bung Tomo kala melihat ketidakberesan di depan matanya. Hal itu terekam dalam wawancara Bung Tomo dengan Judul Bung Tomo Menggugat: Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan dan Semangat 10 November 1945 telah dikhianati di Majalah Panji Masyarakat No 855 Tahun XIII ”.

Dalam artikel itu ditulis kritikan Bung Tomo kepada Presiden Soeharto, Gubernur Ali Sadikin, dan Bulog yang seolah-olah menganakemaskan etnis Tionghoa.

Selain itu, Bung Tomo juga kerap mengkritik adanya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di Orde Baru. Empat tahun setelah putra keduanya, Bambang Sulistomo, ditahan 2 tahun karena diduga terlibat unjuk rasa pada peristiwa 15 Januar 1974 atau dikenal dengan Malari, giliran Bung Tomo yang ditahan akibat diduga terlibat unjuk rasa mahasiswa yang menentang kebijakan Orde Baru.

Bersamanya ditahan juga jurnalis Mahbub Junaedi dan ahli hukum Ismail Suny. Menurut Bambang, "Sejak keluar dari penjara, bapak tak lagi meledak-ledak meskipun hati, sikap, dan kata-katanya tetap satu, konsisten."

6.  Wafat di Makah Dimakamkan TPU Biasa


Sutomo dikenal sangat religius dan bersungguh-sungguh dalam menerapkan ajaran agama. Dia tidak menganggap dirinya sebagai seorang muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama.

Hidupnya berakhir kala ia menunaikan ibadah haji pada 7 Oktober 1981. Ia wafat di Padang Aradah. Jenazahnya kemudian dibawa pulang ke Indonesia dan dimakamkan bukan di Taman Makam Pahlawan. Namun di Pemakaman Umum di Ngagel, Surabaya, sesuai amanahnya.

Kendati Wafat sejak lama, gelar sebagai Pahlawan Nasional baru disematkan kepadanya pada 10 November 2008. Penyematan gelar itu dilakukan pemerintah setelah didesak Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fraksi Partai Golkar (FPG) pada 9 November 2007.

Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 041/TK/TH 2008. Pemberian gelar itu disampaikan Menkominfo, Mohammad Nuh, kepada wartawan di Surabaya, Minggu 2 November 2008.
Meski Bung Tomo telah tiada, jasa-jasanya akan tetap dikenang bangsa. Anak Indonesia diharapkan dapat mencontoh semangatnya dalam membangun Indonesia menjadi lebih baik

Selasa, 21 Mei 2019

Biografi dan Profil Lengkap Fatmawati – Penjahit Bendera Pusaka Indonesia

Fatmawati – Penjahit Bendera Pusaka Indonesia




Fatmawati adalah istri dari presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno yang juga dikenal sebagai Penjahit bendera pusaka yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945. 

Jika anda percaya dengan kata-kata “ada wanita hebat dibalik seorang laki-laki hebat” berkacalah dari Presiden Soekarno. 

Kesuksesan dan kehebatan dari Presiden Soekarno tidak lepas dari dari campur tangan dan perjuangan sang istri yaitu ibu Fatmawati.




Nama : Fatmawati Soekarno
Lahir : Bengkulu, Hindia Belanda , 5 Februari 1923
Wafat : Kuala Lumpur , Malaysia 14 Mei 1980 (57 tahun)
Suami : Soekarno
Anak :
  • Guntur Soekarnoputra
  • Megawati Soekarnoputri
  • Rachmawati Soekarnoputri
  • Sukmawati Soekarnoputri
  • Guruh Soekarnoputra
Orang tua :
  • Hassan Din (ayah)
  • Siti Chojidah(ibu)
Agama : Islam

Biografi Lengkap


Fatmawati adalah ibu negara pertama dari presiden Soekarno yang juga dikenal sebagai penjahit bendera pusaka. Ibu Fatmawati lahir pada hari senin, 5 Februari 1923 pada pukul 12.00 di kota Bengkulu. Fatmawati merupakan putri tunggal dari pasangan H.Hassan Din dan Siti Chadidjah dari seorang keluarga Muhammadiyah. Diceritakan dari biografi Fatmawati beliau menempuh pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) dan selanjutnya menempuh pendidikan khusus di sebuah sekolah yang dikelola oleh organisasi katolik.
Fatmawati mulai menyukai kegiatan organisasi sejak berada pada sekolah dasar. Beliau aktif dalam organisasi Naysatul Asyiyah yang merupakan organisasi perempuan dibawah organisasi muhammadiyah. 
Beliau mengenal Soekarno sejak Soekarno dipindahkan ke tempat perasingan di daerah Flores, NTT. Saat itu Bung Karno bekerja sebagai seorang pengajar di sekolah Muhammadiyah dan Fatmawati saat itu menjadi siswanya.
Perjalanan cinta bu Fatmawati dan Presiden Soekarno membutuhkan perjuangan yang sangat berat. Demi memperoleh cinta fatmawati yang begitu dicintainya. Dengan sangat terpaksa Bung Karno harus merelakan kepergian BU Inggit, yaitu istri dengan sosok yang tegar dan tulus mendampingi Bung Karno dalam perjuangan mencapai Kemerdekaan Indonesia. Sudah banyak perjuangan yang mereka lalui bersama-sama, namun takdir berkata lain pahit manisnya kehidupan yang mereka lalui harus berakhir.
Hingga akhirnya pada tanggal 1 Juni 1943, Bung Karno menikahi Fatmawati. Karena kesibukan yang dijalani Bung Karno sebagai pemimpin Pusat Tenaga Rakyat, pernikahan tersebut dilakukan dengan wakil salah seorang kerabat Bung Karno yaitu Opseter Sardjono. Dengan diantar orang tuanya Fatmawati berangkat ke Jakarta melalui jalan darat, hingga sejak saat itu Fatmawati mendampingi Bung Karno dalam perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia. Perjalanan sepasang merpati penuh cinta ini, akhirnya dikaruniai lima orang putra-putri: Guntur, Mega, Rachma, Sukma, dan Guruh.
Pada tahun 1945 setelah Jepang Menyerah pada sekutu, terjadi permasalahan yang cukup hebat hingga muncul berita bahwa soekarno dan Hatta menghianati bangsa Indonesia. Namun berita itu hanyalah bualan yang dibuat oleh Jepang.
Hingga pada suatu malam , Soekarno dibawah ke Renggas Dengklok dan disuruh oleh para pemuda untuk segera memplomasikan kemerdekaan. Pada saat itu sudah banyak pemuda yang berkumpul di depan rumah Fatmawati. Dan akhirnya Bung Karno dan Bung Hatta keluar dan mengatakan bahwa semuanya sudah dipersiapkan. Melihat hal tersebut ibu Fatmawati akhirnya mengambil kain yang telah ia jahit sendiri, kain bahan bendera tersebut diterimanya dari seorang pemuda bernama Chaerul Bisri.
Saat itu pada hari Jumat di bulan Ramadhan pukul 05:00, fajar di tanggal 17 Agustus 1945 telah memancarkan sinar di ufuk timur kala, embun masih bergelantungan di tepian daun namun para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda dengan diliputi rasa bangga setelah merumuskan Teks Proklamasi hingga dini hari. Para tokoh dan pemimpin telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia pada hari itu di rumah Soekarno yang terletak di Jalan Pegangsaan Timut No.56 Jakarta. Dan tepat pada pukul 10.00, dengan suara tegas, mantap dan jelas Soekarno membacakan teks proklamasi, hingga pekik Merdeka pun berkumandangan dimana-mana.
Dan saat itulah untuk pertama kali bendera Indonesia dikibarkan. Peran Fatmawati menjelang detik-detik proklamasi kemerdekaan yaitu menjahit bendera sang saka merah putih, dan memberikan kepada bendera tersebut kepada seorang pemudi bernama S.K Trimurti yang membawa nampan dan menyerahkan bendera pusaka kepada Latief Hendraningrat dan Soehoed untuk dikibarkan pada saat berkumandangnya lagu Indonesia Raya. Bendera tersebut hingga saat ini masih tersimpan di Monumen Nasional Indonesia.

Pernikahan Ibu Fatmawati dan Presiden Soekarno dikaruniai 5 Orang putra dan putri yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra. Namun Ketika Soekarno meminta ijin untuk menikahi Hartini, ibu Fatmawati meminta untuk di pulangkan ke orangtuanya.
Ibu Fatmawati wafat pada tanggal 14 Mei 1980 pada usia 57 di Kuala Lumpur karena serangan jantung ketika dalam perjalanan pulang umroh dari Mekkah. Ibu Fatmawati dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta. Untuk mengenangnya saat ini nama Fatmawati digunakan sebagai nama Rumah Sakit di Jakarta, nama Fatmawati Soekarno juga dipakai sebagai nama bandara udara di Bengkulu, yaitu kota kelahiran Fatmawati.



Jumat, 10 Mei 2019

Soekarno Presiden Pertama

Sukarno, juga dieja Soekarno, (lahir 6 Juni 1901, Surabaja [sekarang Surabaya], Jawa, Hindia Belanda — meninggal 21 Juni 1970, Jakarta, Indonesia), pemimpin gerakan kemerdekaan Indonesia dan presiden pertama Indonesia (1949–66) ), yang menekan sistem parlementer asli negara itu demi "Demokrasi Terpimpin" yang otoriter dan yang berusaha menyeimbangkan kaum Komunis melawan para pemimpin militer. Dia digulingkan pada tahun 1966 oleh tentara di bawah Suharto.

Kehidupan Awal dan Pendidikan



Sukarno adalah satu-satunya putra guru sekolah Jawa yang miskin, Raden Sukemi Sosrodihardjo, dan istri orang Bali, Ida Njoman Rai. Awalnya bernama Kusnasosro, ia diberi nama baru dan, diharapkan, nama yang lebih menguntungkan, Sukarno, setelah serangkaian penyakit. Dikenal oleh teman bermain masa kecilnya sebagai Djago (Ayam, Juara) karena penampilan, semangat, dan kehebatannya, ia sebagai orang dewasa yang dikenal sebagai Bung Karno (bung, "saudara" atau "kawan"), pahlawan revolusioner dan arsitek merdeka ("kemerdekaan").

Sukarno menghabiskan masa kecilnya dengan kakek-neneknya di desa Tulungagung, di mana ia dihadapkan pada animisme dan mistisisme Jawa pedesaan yang tenang. Di sana ia menjadi pemuja wayang seumur hidup, pertunjukan wayang kulit berdasarkan epos Hindu, sebagaimana dianimasikan dan diriwayatkan oleh seorang dalang, yang bisa membuat penonton terpesona sepanjang malam. Sebagai pemuda berusia 15 tahun, Sukarno dikirim ke sekolah menengah di Surabaya dan ke penginapan di rumah Omar Said Tjokroaminoto, seorang tokoh sipil dan agama yang terkemuka. Tjokroaminoto memperlakukannya sebagai anak asuh yang disayangi dan anak didik, membiayai pendidikan lanjutannya, dan akhirnya menikahkannya pada usia 20 tahun dengan putrinya yang berusia 16 tahun, Siti Utari.


Sebagai seorang mahasiswa, Sukarno memilih untuk unggul terutama dalam bahasa. Dia menguasai bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Indonesia modern, yang, pada kenyataannya, dia banyak berkarya. Dia juga memperoleh bahasa Arab, yang, sebagai seorang Muslim, dia belajar dengan mempelajari Al-Qur'an; Belanda, bahasa pendidikannya; Jerman; Perancis; Inggris; dan kemudian, orang Jepang. Di rumah Tjokroaminoto ia datang untuk bertemu dengan para pemimpin yang muncul yang membentang spektrum politik nasional yang meluas dengan cepat, dari pangeran feodal ke konspirasi komunis buronan. Sinkretisme eklektik dari istana Tjokroaminoto, seperti romantisme dan mistisisme wayang, tercetak dengan sendirinya pada pikiran dan kepribadian Sukarno. Dia kemudian memperlakukan pembuatan-bangsa sebagai teater yang heroik, di mana bentrokan antara orang-orang dan ide-ide yang tidak dapat didamaikan dapat diselaraskan melalui sihir puitis belaka - miliknya sendiri.

Diberkahi dengan kehadiran yang memerintah, kepribadian yang bercahaya, suara yang merdu, gaya hidup, memori fotografi, dan kepercayaan diri tertinggi, Sukarno jelas ditakdirkan untuk kebesaran. Pada tahun 1927 di Bandung, di mana ia baru saja memperoleh gelar di bidang teknik sipil, ia menemukan panggilan sejatinya dalam bidang pidato dan politik. Dia segera mengungkapkan dirinya sebagai seorang pria karisma dan takdir.


Cinta Sukarno hampir sama terkenalnya dengan pidatonya. Dia menceraikan Siti pada tahun 1923 dan menikah dengan Inggit Garnisih, menceraikannya pada tahun 1943 dan menikahi Fatmawati, dengan siapa dia memiliki lima anak, termasuk putra sulungnya, Guntur Sukarnaputra (lahir 1944). Sebagai seorang Muslim, Sukarno berhak atas empat istri, jadi dia mengambil beberapa istri lagi dalam beberapa dekade berikutnya.

Indonesia merdeka

Selama Perang Dunia II, Jepang menjadikan Sukarno sebagai penasihat utama dan propagandis dan perekrut mereka untuk buruh, tentara, dan pelacur. Sukarno menekan Jepang untuk memberikan Indonesia kemerdekaannya dan, pada 1 Juni 1945, membuat pidato yang paling terkenal dari banyak yang terkenal. Di dalamnya ia mendefinisikan Pantjasila (Pancasila), atau Lima Prinsip (nasionalisme, internasionalisme, demokrasi, kemakmuran sosial, dan kepercayaan pada Tuhan), masih menjadi doktrin negara yang sakral. Ketika keruntuhan Jepang menjadi dekat, Sukarno pada awalnya goyah. Kemudian, setelah diculik, diintimidasi, dan dibujuk oleh para pemuda aktivis, ia mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945). Sebagai presiden republik baru yang goyah, ia memicu keberhasilan pembangkangan terhadap Belanda, yang, setelah dua "tindakan polisi" yang gagal untuk mendapatkan kembali kendali, secara resmi mengalihkan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949.

Dari ibu kotanya yang revolusioner di Yogyakarta (dahulu Yogyakarta), Sukarno kembali dengan kemenangan ke Jakarta pada 28 Desember 1949. Di sana ia membangun dirinya sendiri, koleksi lukisannya, dan banyak pengiringnya di istana indah gubernur jenderal Belanda. Dia melanjutkan untuk memimpin secara urban sebuah tontonan yang sekaligus mengalihkan dan mengganggu. Pengritiknya yang semakin banyak dan blak-blakan menyatakan bahwa Sukarno tidak mengilhami program yang koheren dari organisasi dan administrasi, rehabilitasi, dan pembangunan nasional, seperti yang jelas-jelas diperlukan. Sebagai gantinya, ia tampaknya melakukan serangkaian audiensi formal dan informal secara terus-menerus dan pertemuan malam resepsi, jamuan makan malam, musik, tarian, film, dan wayang. Politik Indonesia menjadi semakin hiruk pikuk, dengan Sukarno sendiri terlibat dalam manuver licik yang membuat stabilisasi menjadi tidak mungkin. Ekonomi Indonesia kandas sementara Sukarno mendorong pemborosan yang paling liar. Yang pasti, bangsa ini mencetak pencapaian yang mengesankan dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan kesadaran diri budaya dan ekspresi diri. Kenyataannya, hal itu mencapai apa yang dicari dan diakui Sukarno dengan sangat gembira sebagai "identitas nasional," rasa bangga yang luar biasa karena menjadi orang Indonesia. Tetapi pencapaian ini datang dengan biaya yang merusak.

Setelah "bermimpi" pada akhir 1956 tentang "mengubur" partai-partai politik yang bertikai di Indonesia dan dengan demikian mencapai konsensus dan kemakmuran nasional, Sukarno membongkar demokrasi parlementer dan menghancurkan perusahaan bebas. Dia menahbiskan "Demokrasi Terpimpin" dan "Ekonomi Terpimpin" untuk pencapaian Manipol-Usdek dan Resopim-Nasakom — akronim misterius yang melambangkan kebijakan tetapi menandakan kediktatoran.

Ekses pribadi dan politik Sukarno, sebagaimana dicontohkan pada akhirnya oleh ideologi neo-Marxisnya, kripto-komunis dan kabinetnya yang terkenal yang terdiri atas 100 menteri yang korup dan sinis, mendorong kondisi krisis nasional yang berkelanjutan. Sukarno secara sempit lolos dari upaya pembunuhan berulang, yang pertama pada tahun 1957. Pemberontakan regional pecah di Sumatra dan Sulawesi pada tahun 1958. Inflasi meningkatkan indeks biaya hidup dari 100 pada tahun 1958 menjadi 18.000 pada tahun 1965 dan terus meningkat menjadi 600.000 pada tahun 1967. Pada tahun 1963, setelah berulang kali berteriak "Persetan dengan bantuanmu" (total 1950-65: US $ 1.000.000.000), Sukarno memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat. Setelah menghadiahi 1.000.000.000 dolar AS dalam persenjataan Soviet dan barang-barang lainnya, ia selanjutnya menghina Moskow.


Pada tanggal 20 Januari 1965, Indonesia secara resmi menarik diri dari PBB karena yang terakhir mendukung Malaysia, yang Sukarno telah bersumpah untuk "menghancurkan" sebagai "plot pengepungan imperialis." Namun, sampai 1965, Sukarno masih mampu menggerakkan massa Indonesia. untuk pertempuran dekat-histeris. Jutaan orang Indonesia menyanyikan dan meneriakkan slogan-slogannya dan menyatakan Sukarno sebagai "Pemimpin Besar Revolusi," "Presiden Seumur Hidup" (gelar resminya), dan oracle dan pendekar Nefo — singkatan dari "Pasukan Baru" —dengan kekerasan konflik dengan Nekolim — neokolonialisme, kapitalisme, dan imperialisme dari kekuatan Barat yang “ditakdirkan”.

Kudeta 1965

Bangsa itu terkejut dan terguncang keluar dari kesurupannya oleh kudeta yang gagal pada 30 September 1965. Sebuah kelompok konspirator militer yang menyebut dirinya Gerakan 30 September menculik dan menewaskan enam jenderal tinggi militer, menyita beberapa poin penting kota, dan memproklamirkan baru rezim revolusioner. Jenderal Suharto, komandan garnisun Jakarta, dengan cepat membalikkan kudeta.

Suharto dan militer pada umumnya percaya bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) - yang sampai taraf tertentu telah didukung dan dilindungi oleh Sukarno - berada di belakang upaya kudeta. Sebaliknya, PKI memahami plot itu sepenuhnya masalah militer. Terjadi pertarungan miring untuk kekuasaan antara Soeharto dan Sukarno, di mana ribuan komunis dan dugaan komunis dibantai oleh militer; perkiraan jumlah orang yang terbunuh selama pembersihan berkisar dari 80.000 hingga lebih dari 1.000.000. Ketika negara itu ngeri ketakutan, para pemuda aktivis menuntut kematian politik Sukarno, Sukarnois, dan Sukarnoisme dan reformasi total dan reorganisasi negara. Pada 11 Maret 1966, Sukarno berkewajiban untuk mendelegasikan kekuasaan luas kepada Soeharto, yang kemudian menjadi penjabat presiden (Maret 1967) dan kemudian presiden (Maret 1968), ketika Sukarno tenggelam dalam kehinaan dan kekejaman.

Sukarno meninggal pada usia 69 karena penyakit ginjal kronis dan banyak komplikasi. Soeharto mengumumkan pemakaman yang cepat dan tenang. Namun demikian, setidaknya 500.000 orang, termasuk hampir semua tokoh penting Jakarta, ternyata memberikan penghormatan ambivalen terakhir mereka. Keesokan harinya 200.000 lainnya berkumpul di Blitar, dekat Surabaya, untuk layanan resmi diikuti oleh penguburan di kuburan sederhana bersama ibunya. Sekte dan ideologi Sukarnoisme dilarang sampai akhir 1970-an, ketika pemerintah melakukan rehabilitasi nama Sukarno. Autobiografinya, Sukarno, diterbitkan pada tahun 1965.